Hati tidak pernah bohong. Namun lisan justru sulit sekali berkata kejujuran. Entah mengapa.

Tak Mampu

Makhluk Tuhan sebaik itu, mana mungkin aku tega melukainya. Seperti senjata makan tuan. Ku iris hatiku sendiri, sambil tersenyum menatap matahari pagi. Di kedua bola matanya.

Surabaya, 11.04.2013

I’m Not Me

dear heart, im so sorry…

aku bisa menjadi apapun yang mereka inginkan
tapi tidak bisa menjadi apapun yang aku inginkan

karena terkadang lebih mudah menyenangkan hati orang ketimbang hati sendiri

andai aku punya keberanian untuk terbuka

bukankah hidup tak selalu harus seperti yang kita ingini
bukankah sering kali kita mengatasnamakan Tuhan untuk rencana yang lebih baik

ah hidup
benar atau salahnya tidak ada yg tau pasti

are you happy?
am i happy?

Surabaya, 11.04.2013

Andai Tuhan Beri Aku Kemampuan

andai aku bisa jujur, Tuhan
kan ku katakan apa yg tak juga bisa kukatakan
andai aku cukup berani, Tuhan
tak apalah ada hati yg terluka demi kedamaian
andai jujur itu mudah, Tuhan
perasaan ini takkan menjadi beban
sayangnya, Tuhan
tak ada sedikitpun keberanian yg keluar
karena ku takut menyakiti seseorang
mungkin juga ku takut tak akan menjadi lebih baik
aku tak sanggup jika lebih buruk
tak bisa, Tuhan
tak bisa ku katakan

Jangan bicara hak dan kewajiban. Jika kau selalu mendidikku menjadi yang terbaik tanpa memperlakukanku dengan baik.
Di kotamu sepagi ini, kau mungkin sedang tidur manis. Sedang aku tak henti merindukanmu, di kota yang bukan milikku. — 16-Maret-2013, Turkey

Pandangan Matanya

tiap kali melawan pandangan matamu
melemahkan jiwa
hingga terpejam dan melihat ke lain arah
menjadi ketenangan yg ku cari cari
namun selalu ada yg menarikku lagi
selalu kembali untuk melihat lagi
lagi dan lagi
kau yg tidak tau apa apa
aku yg marasakan begitu hebat
berbahagialah disana

23 maret 2013

There

Dari jauh aku melihatmu duduk menghisap dan membuang kepulan asap rokokmu berkali kali
Kau tampak gelisah tak sabar menunggu seseorang yang kau nantikan
Yang kau rindu untuk berbagi pelukan
Aku menghampirimu dan kau memelukku dg erat
“kau merokok banyak sekali, kan aku sudah bilang merokok tak baik buat kesehatan. Aku sebal melihatmu terus meracun dirimu dg nikotin dan asap rokok”
“aku hanya coba menenangkan diri agar tak gelisah sendirian. Sekarang kau sudah disini bu dokter, kau bisa mengontrol sendiri kesehatan pasienmu ini”
Aku tersenyum melihat wajah legamu yang kembali tenang membuang sisa rokok batangan yang sekejap kau matikan
kita masuk ke dalam kamar untuk berbincang melepas rindu yg mencengkram erat
Selagi kau merapikan kamarmu yg berantakan
Aku melihat begitu banyak puntung rokok dan pak rokok berceceran
Jika merokok adalah pelarian
Melihat puntung sebanyak itu membuatku bertanya
Begitu banyak kegelisahan kau habiskan sendirian dari waktu ke waktu
Begitu sering kau butuh seseorang dari kesepian
Dan sesering itukah aku tidak ada di sana?
Menggantikan tiap batang rokokmu untuk sebuah ketenangan
Ini lebih dari sekedar rindu
Cinta adalah sebuah kebutuhan

not a suicide

Sore ini aku melihat berita ttg gadis penjual koran di tempatku bekerja terekam melompat terjun dari atas gedung dg tangan terlentang. Penyiar mengatakan dia diduga bunuh diri karena menderita kemiskinan. Menurut hasil wawancara teman teman sepenjual koran dengannya, tak ada yg mengatakan dia pernah terlihat mengeluh, depresi, atau apapun tanda tanda untuk aksi kematiannya. Sepersekian detik otakku merewind, satu hal yg aku ingat sehari sebelum aksinya, pada saat ia menawarkan koran pagi untukku, ia menunjuk gambar pemandangan langit di sebuah spanduk kerohanian dan berkata ‘aku ingin terbang’

Biarpun peluru menembus dada, kau kan tetap aman di dalam hati.

(via karizunique)

Alamak, rik…

(via auliasaurus)

(via auliasaurus)

Rapatkanlah jarak kita. Serapat mungkin. Hingga hanya ada sisa udara untuk kita berdua. Dan tak ada tempat bagi yang lain, yang ingin merenggangkan kita. Biarkan Tuhan berbaik hati pada kita, hubungan ini, dan memerintahkan waktu untuk tidak pernah berhenti untuk kita. Dan kita, tidak akan ada habisnya. — (via auliasaurus)

Waktu Pulang

16 03 2013 

garis senyum sepagi ini
melengkung setengah lingkaran bagian atas
hadirnya memberi harapan
setelah ku ingat semalam tak juga terbalas
waktunya ku sadar
pagi tak selalu memberi jawaban
waktunya bangun dari harapan
matahari selalu terbit dan tenggelam
centhini
sebentar lagi aku pulang
tanpa jejak hujan

Gadis Kecil di Bangku Taman

gadis kecil di bangku taman. menenggelamkan diri dalam bacaan. mengusir sepi dengan tokoh khayalan. hingga pangeran kecil datang. gadis kecil mengintip dari balik bukunya. bertemu pandang dg sang pangeran. pangeran tanpa mahkota, tanpa kuda, tanpa jubah. sedetik tatap mata, pangeran tersenyum ramah, si gadis menoleh acuh, seolah memberi pesan ‘aku sibuk’. waktu berikutnya, gadis kecil menutup buku. berjalan keluar taman. sedetik mencuri pandang pada pangeran kecil, ia asik diskusi dg penasehat yg bijak. si gadis memberi senyum. (tapi) hanya punggung pangeran yang tau. si gadis pura pura acuh ditertawakan rindu.

23 02 2013
Ratu Aghnia

Tentang Penulis

Namaku Gladis. Aku suka menulis. Menulis tentang seseorang yang tidak pernah tau aku suka menulis tentang dirinya. Menulis tentang seseorang yang juga suka menulis, seseorang yang tulisannya aku baca satu persatu, namun tidak pernah menulis tentangku. Andai, andai saja suatu hari aku muncul dalam tulisannya, pastilah aku bukan pemeran utama. Jika ada aku di dalam tulisannya, itu hanya karena aku memang ada dalam selip selip hidupnya, sebagai seseorang yang pernah bertukar pikiran tentang tulisan dengannya. Hanya sekedar itu. Tidak lebih.

Sempat terpikir, bagaimana jika aku ada dalam kisahnya. Pasti akan jadi tulisan yang indah. Karena dia memang pandai merangkai kata. Ah, betapa aku ingin ada dalam untaian kata katanya. Walau mungkin hanya satu baris kalimat. Dia, bukan hanya seniman kata kata, tapi juga seniman kehidupan.  Cara berpikirnya, cara dia berargumen, cara dia menikmati kehidupan bersama teman temannya, cara dia tetap tenang namun tidak pernah main main dengan apa yang dia kerjakan, hingga karya karya yang selalu berhasil dengan indah dia tuliskan. Ah, andai aku menjadi inspirasi dari salah satu karyanya. Ah, jika dia tau, apa yang akan dia katakan tentang karya karyaku yang sebenarnya menceritakan tentangnya? Ah, sudah sudah…

—-

Aku sedang duduk di sebelah teman sekelasku, Gladis namanya. Dia sedang asik menulis sambil sesekali menerawang dan senyum senyum sendiri. aku hanya mendengarkan lagu sambil membaca tulisannya yang seperti curhatan itu. Aku juga suka menulis. Tapi tidak pernah aku tunjukkan pada siapapun. Atau sebaliknya, sebenernya tulisanku terpublish, hanya saja aku tidak pernah tau siapa yang membacanya. Atau bahkan ada atau tidak yang membacanya. Sama seperti Gladis, tulisanku juga mayoritas tentang seseorang, seseorang yang tidak tahu aku menulis tentangnya, seseorang yang juga suka menulis, namun tidak pernah menulis tentangku. Gladis. Semua tulisanku tentang Gladis. Tapi Gladis tidak pernah menulis tentangku. Gladis mengagumi tulisan tulisan senior kami, Frimen, dia juga mengagumi penulisnya, dan dia ingin menjadi bagian dari tulisan tulisan si senior itu. Lalu bagaimana dengan Tulisan tulisan Porman tentang Gladis. Aku tidak minta Gladis menulis tentangku. Aku hanya ingin dia tau, dia selalu ada dalam tulisanku. Dia menjadi inspirasiku. Gladis adalah bagian yang mengindahkan tulisan tulisanku. Hidupku.

—-

Aku pembaca blog seseorang bernama Porman. Porman yang selalu menceritakan seseorang bernama Gladis, Gladis yang selalu menulis tentang Seniornya, Frimen. Aku mengenal siapa mereka melalu tulisan. Dan aku selalu tersenyum sendiri menyelami kisah mereka. Kisah Porman yang lebih banyak bercerita tentang Gladis, dari pada menceritakan dirinya sendiri. Mereka bertiga penulis, memiliki pembacanya sendiri sendiri, menulis tentang seseorang yang menjadi inspirasi diri mereka masing masing, dan hidup dalam tulisan orang  lain secara diam diam.